Makalah Membangun Teori Grounded Dalam Penelitian Kualitatif



MAKALAH
MEMBANGUN TEORI GROUNDED DALAM PENELITIAN KUALITATIF


TUGAS MATA KULIAH PENELITIAN KUALITATIF
( Dosen Pengampu Prof. Joko Widodo )



Oleh
SRI PUJIASTUTI
0701515023
PEND EKONOMI, S2




JURUSAN PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pada tahun 1967 Barney Glaser dan Anselm Strauss adalah dua orang ahli sosiologi yang pertamakali menyatakan penelitian grounded theory dan terakhir mengelaborasinya melalui bagian dari buku-bukunya. Berbeda dari orientasi teoritis a priori dalam sosiologi, mereka memegang teguh bahwa teori-teori harus diasah ( grounded ) dalam data dari lapangan, khususnya dalam tindakan, interaksi, dan proses sosial seseorang.  Grounded theory atau teori dasar merupakan metode ilmiah yang berurusan dengan generalisasi, elaborasi, dan validasi dari teori sosial. Salah satu model pendekatan penelitian kualitatif yang sedang berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini, baik dari sisi kuantitas maupun bidang studi  yang menggunakannya, dari yang semula di bidang sosiologi saja sekarang sudah berkembang ke bidang-bidang lain, seperti pendidikan, ekonomi, antropologi, psikologi, bahasa, komunikasi, politik, sejarah, agama dan sebagainya. Grounded theory merupakan prosedur peneltian kualitatif yang sistematik, dimana peneliti suatu teori yang menerangkan konsep, proses, tindakan, atau interaksi mengenai suatu topic pada level konseptual yang luas. Sesuai dengan nama yang disandangnya, tujuan dari Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang berorientasi tindakan/interaksi, karena itu cocok digunakan untuk penelitian terhadap perilaku. Penelitian ini tidak bertolak dari suatu teori atau untuk menguji teori (seperti paradigma penelitian kuantitatif), melainkan bertolak dari data menuju suatu teori.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah makalah ini adalah:
1.      Bagaimanakah definisi grounded theory methodology, grounded theory dan pendekatan grounded theory ?
2.      Bagaimana ciri-ciri pokok metode grounded theory?
3.      Bagaimana prinsip-prinsip grounded theory?
4.      Bagaimana langkah-langkah pokok dalam penelitian grounded ?
5.      Bagaimana metode pengumpulan data pada Grounded Theory?
6.      Bagaimana proses analisis data dalam Grounded Theory?

C.      Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan dari makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang:
1.      Definisi grounded theory methodology, grounded theory dan pendekatan grounded theory.
2.      Ciri-ciri penelitian grounded theory.
3.      Prinsip-prinsip grounded theory.
4.      Langkah-langkah pokok dalam penelitian grounded theory.
5.      Metode pengumpulan data pada Grounded Theory.
6.      Proses analisis data dalam Grounded Theory.




















BAB II
PEMBAHASAN
A.     Definisi  grounded theory methodology, grounded theory dan pendekatan grounded theory
1)      Definisi grounded theory methodology ( metodologi teori dasar)
Menurut Manteuffel metodologi teori dasar adalah suatu metode analisis komparatif yang umum untuk menemukan teori dengan empat kriteria, yaitu kerja (umum), relevansi (dimengerti), cocok (valid), dan dapat dimodifikasi (dikendalikan). Metodologi teori dasar merupakan salah satu metode interpretatif yang membagi filsafat fenomenologi yang umum.

2)      Definisi grounded theory
Menurut Strauss dan Corbin teori dasar adalah suatu teori yang secara induktif diperoleh dari pengkajian fenomena yang mewakilinya. Teori tersebut ditemukan , dikembangkan, dan untuk sementara waktu dibuktikan melalui pengumpulan data yang sistematis, analisis data yang menyinggungfenomena tersebut. Oleh karena itu, pengumpulan data, analisis data, dan teori berada di dalam hubungan timbal balik satu dengan lainnya. Orang tidak mulai dengan teori, orang mulai dengan suatu area studi dan apa yang berkaitan dengan area tersebut dibiarkan muncul.
3)      Definisi pendekatan grounded theory
Menurut Strauss dan Corbin pendekatan teori dasar adalah suatu metode penelitian kualitatif  yang menggunakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengembangkan teori secara induktif yang memperoleh teori dasar tentang suatu fenomena. Temuan penelitian merupakan suatu perumusan teoritis menyangkut kenyataandi bawah penyelidikan, bukan terdiri atas serangkaian angka-angka, atau suatu kelompok yang terlepas berhubungan dengan tema-tema. Melalui metodologi ini, konsep dan hubungan antar konsep tidak hanya dihasilkan, tetapi juga untuk sementara diuji. Tujuan grounded theory adalah untuk membangun teori yang dapat dipercayai dan menjelaskan wilayah di bawah studi.

B.      Ciri-ciri penelitian grounded theory
Ciri-ciri grounded theory sebagaimana penjelasan Strauss dan Corbin adalah sebagai berikut:
1.      Grounded theory dibangun dari data tentang suatu fenomena, bukan suatu hasil pengembangan teori yang sudah ada.
2.      Penyusunan teori tersebut dilakukan dengan analisis data secara induktif bukan secara deduktif seperti analisis data yang dilakukan pada penelitian kuantitatif.
3.      Agar penyusunan teori menghasilkan teori yang benar disamping harus dipenuhi 4 (empat) kriteria yaitu:
a.      cocok (fit), yaitu apabila teori yang dihasikan cocok dengan kenyataan sehari-hari sesuai bidang yang diteliti.
b.      dipahami (understanding), yaitu apabila teori yang dihasilkan menggambarkan realitas (kenyataan) dan bersifat komprehensif, sehingga dapat dipahami oleh individu-individu yang diteliti maupun oleh peneliti.
c.       berlaku umum (generality), yaitu apabila teori yang dihasilkan meliputi berbagai bidang yang bervariasi sehingga dapat diterapkan pada fenomena dalam konteks yang bermacam-macam.
d.      pengawasan (controll), yaitu apabila teori yang dihasilkan mengandung hipotesis-hipotesis yang dapat digunakan dalam kegiatan membimbing secara sistematik untuk mengambil data aktual yang hanya berhubungan dengan fenomena terkait.
Dalam teori ini juga diperlukan dimilikinya kepekaan teoretik (theoretical sensitivity) dari si peneliti. Kepekaan teori adalah kualitas pribadi si peneliti yang memiliki pengetahuan yang mendalam sesuai bidang yang diteliti, mempunyai pengalaman penelitian dalam bidang yang relevan. Dengan pengetahuan dan pengalamannya tersebut si peneliti akan mampu memberi makna terhadap data dari suatu fenomena atau kejadian dan peristiwa yang dilihat dan didengar selama pengumpulan data. Selanjutnya si peneliti mampu menyusun kerangka teori berdasarkan hasil analisis induktif yang telah dilakukan. Setelah dibandingkan dengan teori-teori lain dapat disusun teori baru.
4.      Kemampuan peneliti untuk memberi makna terhadap data sangat diperngaruhi oleh kedalaman pengetahuan teoretik, pengalaman dan penelitian dari bidang yang relevan dan banyaknya literatur yang dibaca. Hal-hal tersebut menyebabkan si peneliti memiliki informasi yang kaya dan peka atau sensitif terhadap kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam fenomena yang diteliti.

C.      Prinsip – Prinsip Metodologi Grounded Theory
1.      Perumusan masalah
Pemilihan dan perumusan masalah merupakan pusat terpenting dari penelitian ilmiah. Suatu masalah meliputi semua batasan pemecahannya, beserta harapan bahwa pemecahannya ditemukan. Pada perumusan ini batasan tersebut secara aktual dibangun dari masalah itu sendiri. Mereka mencirikan masalah tersebut dan memberinya struktur. Permintaan yang eksplisit bahwa pemecahannya ditemukan muncul dari tujuan program penelitian, penelusuran yang mengantarkan yaitu yang diharapkan, untuk mengisi suatu jurang yang nyata di dalam struktur permasalahan. Selain itu, dengan memasukkan semua batasan dalam perumusan masalah, masalah tersebut memungkinkan peneliti untuk mengarahkan penyelidukan secara efektif dengan penunjukkan jalan ke pemecahan itu sendiri. Dalam pengertian yang nyata, masalah adalah separuh dari pemecahan.

2.      Deteksi fenomena
Fenomena stabil secara relatif, ciri umum yang muncul dari dunia yang kita lihat untu dijelaskan. Yang lebih menarik keteraturan penting yang dapat dibedakan ini kadang – kadang disebut efek. Fenomena meliputi suatu cakupan ontologis yang bervariasi yang meliputi objek, keadaan, proses, dan peristiwa, serta ciri-ciri lain yang sulit digolongkan. Oleh karena itu lebih bermanfaat untuk mendeskripsikan fenomena dalam istilah perannya sebagai objek khusus penjelasan dan prediksi. Tidak hanya memperlakukan fenomena yang memberikan poin-poin penjelasan ilmiah tanpa pendeteksian fenomena akan sulit mengetahui apa yang akan dijelaskan), berdasarkan perhitungan generalisasi dan stabilitasnya, serta menjadi fokus yang sesuai bagi penjelasan ilmiah (penjelasan sistematis dari peristiwa yang berlangsung sangat singkat akan sangat sulit, jika tidak mustahil). Data sebagai pembanding, bersifat idiosyncratic pada konteks penelitian khusus. Data tidak sestabil fenomena. Data adalah rekaman atau laporan yang secara perseptual dapat diakses. Dengan demikian data dapat diamati danterbuka bagi pemeriksaan publik. Pentingnya data berada dalam fakta bahwa data bertindak sebagai bukti bagi fenomena yang diteliti. Secara umum, metode statistik merupakan bantuan langsung dalam pendeteksian fenomena, tetapi bukan konstruksi teori-teori yang bersifat menjelaskan. Adalah penting untuk menyadari reliabilitas data membentuk basis untuk mengakui bahwa fenomena itu ada. Penetapan data itu merupakan bukti yang andal untuk keberadaan fenomena, kita mengontrol berbagai cara faktor yang bercampur ( counfounding factors) ( secara eksperimen dan statistik), menyelesaikan refleksi, mengalibrasi instrumen, secara empiris memeriksa peralatan, dan melakukan analisis statistik untuk tujuan reduksi data. Sementara reliabilitas merupakan dasar untuk pembenaran klaim tentang fenomena, kemudian kita akan melihat bahwa pertimbangan tentang koherensi eksplanatori merupakan dasar-dasar yang sesuai untuk penerimaan teori.

3.      PenurunanTeori ( Theory Generation )
Menurut metode hipotetiko-deduktif yang sebenarnya, orang mengambil suatu teori atau hipotests dan mengujinya secara tidak langsung dengan memperoleh dari konsekuensinya yang merupakan kesediaan mereka menguji langsung secara empiris.  Dalam pengambilan teori sebagaimana adanya, metode hipotetiko-deduktif tidak mempertimbangkan penciptaan atau asal teori tersebut, hanya dengan validasi dan justifikasinya. Hal ini disebabkan penciptaan teori dianggap menjadi peristiwa psikologis ( historis, sosiologis, dan seterusnya )  saja, sementara ilmu pengetahuan sebagai suatu usaha rasional berkaitan dengan pengujian, karena itu dianggap sebagai urusan logis. Disamping status hegemoniknya, hipotetiko-dediktivisme secara serius tidak mencukupi sebagai teori dari metode ilmiah. Dalam berbicara menentang  logico-deductive theorizing. Glaser dan Strauss, pada dasarnya, mengukur dua kritisme pada metode tersebut: pertama, nyata sekali melebih-lebihkan dalam penempatan pengujian bahwa penalaran induktif dapat membentuk perumusan ide-ide teoritis.

4.      Pengembangan teori
Karena teori tidak ditangkap dari genggaman hypothetico-deductive sracar ortodoks, peneliti bidang pendidikan dan ilmu sodial pernah perduli dengan pengujian teori berkenaan dengan kecukupan empiris mereka. Suatu praanggapan yang tak diucapkan dari praktik semacam itu, adalah bahwa teori muncul dalam bentuk berbunga peuh ( full-blown form), sesudah itu teori tersebut  setiap saat siap diuji. Sesungguhnya teori semacam itu belum dikembangkan, dan peneliti tanpa sadar menyampaikan teori dengan lkadar isi rendah tersebut kepada penguji empiris prematur. Ini terjadi, sebagai contoh, dengan praktik biasa kita melalui pengujian kebermaknaan hipotesis nol, dan sering terjadi manakala metode statistik regresi kompleks digunakan untuk menguji model kausal. Sebagai pembanding, Glaser dan Strauss memegang suatu perspektif dinamis pada konstruksi teori. Ini jelas dari klaim mereka bahwa strategi analisis komparatif untuk penurunan teori meletakkan suatu tekanan yang kuat pada teori sebagai proses yaitu teori sebagai suatu kesatuan yang pernah berkembang bukan sebagai suatu produk yang sempurna. Pengembangan teori dalam ilmu pengetahuan  sering merupakan suatu materi pembangunan yang disebut model paramorf ikonik. Dengan model paramorf, sumber yang menjadi model berbeda sama sekali dari materi pokok yang dimodelkan-pengembangan teori yang memerlukan mekanisme generatif untuk menjelaskan efek yang berbeda dari kasus tersebut. Mode ikonik representatif sering melibatkan simulasi kenyataan di dalam suatu gambaran yang dapat divisualkan secara konkret. Ini merupakan mode yang pantas untuk mewakili luasnya mekanisme kausal kita yang digambarkan dari domain pengalaman yang mungkin. Teori kemudian diturunkan secara abduktif dan dikembangkan melalui perluasan analogis.

5.      Penilaian Teori ( Theory Appraisal )
Penganut aliran empirisme yang dominan tentang penilaian teori dicirikan dalam pertunjukkan hipotetiko-deduktif normal, di mana teori ditaksir kecukupan empirisnya dengan memastikan apakah prediksi tesnya dibuktikan oleh data yang relevan. Bagaimanapun, batasan suatu konfirmasi yang keras seperti itu sekarang scara luas diterima di dalam filosofi ilmu pengetahuan. Glaser dan Strauss tidak menyatakan perhitungan yang tepat menyangkut hakikat dan tepat pengujian teori dalam ilmu sosial, mereka menjelaskan bahwa ada yang lebih pada penilaian teori dari pada pengujian untuk kecukupan empiris. Kejelasan, konsistensi, sifat hemat, kepadatan, ruang lingkup, pengintegrasian, cocok untuk data, kemampuan menjelaskan, bersifat prediksi, harga heuristik, dan aplikasi semua itu disinggung oleh Glaser dan Strauss sebagai kriteria penilaian yang bersangkutan, walaupun mereka tidak mengerjakannya dalam suatu pandangan yang koheren tentang penilaian teori. Karena ilmu pengetahuan mengejar berbagai tujuan, dan teori secara khusus ditentukan oleh bukti-bukti empiris yang relevan, penilaian teori harus dilakukan pada dimensi evaluatif sebagai tambahan terhadap kecukupan empiris itu. Dipahami sebagai corak sentral dari realisme ilmia, metode AEI mempertimbangkan penilaian sistematis teori-teori yang sudah matang yang secara esensial menjadi materi kesimpulan pada penjelasan yang paling baik, di mana suatu teori diterima manakala diputuskan untuk memberikan penjelasan yang lebih baik menyangkut bukti dibansingkan saingannya. Kritik awal terhadap pemikiran yang paling baik dikeluhkan, yaitu bahwa ketidakhadiran kriteria yang diformulasikan peneliti mengambil keputusan menyangkut penjelasan yang terbaik itu. Namun Paul Thagard mengembangkan peluang perhitungan penilaian teori yang mengambil kesimpulan pada penjelasan terbaik menjadi terkait secara sentral dengan penetapan koherensi yang bersifat menjelaskan. Teori Thagard bukanlah suatu teori umum melainkan secara sentral dengan menetapkan koherensi eksplanatori di maan proposisi menjaga kesatuan karena relasi eksplanatorinya. Relasi koherensi eksplanatori ditetapkan melalui operasi tujuh prinsip: simetris, penjelasan, analogi, prioritas data, kontradiksi, kompetisi, dan keberterimaan. Penentuan koherensi eksplanetori suatu teori dibuat dalam istilah tiga kriteria: consilience ( atau menjelaskan secara luas ), penyederhanaan, dan analogi. Kriteria dapat menjelaskan, yang dipercaya Thagard yang paling penting untuk pemilihan penjelasan terbaik, menangkap ide bahwa suatu teori lebih koherensi eksplanatori dari saingannya bila teori tersebut menjelaskan suatu rentangan fakta lebih besar. Pemikiran penyederhanaan Thagard dianggap paling sesuai untuk pemilihan teori yang ditangkap oleh idedi mana pilihan harus diberikan kepada teori yang membuat asumsi khusus lebih sedikit. Kelebihan dari teori Thagard adalah memenuhi permintaan untuk jastifikasi oleh pendekatan pada pertimbangan keherensi dari pada asas, mempertimbangkan penilaian teori menjadi suatu materi komparatif dan suatu yang terkait secara sentral dengan penjelasan, dan dapat diimplementasikan dalam suatu tempat yang penting untuk keputusan oleh peneliti.

6.      Graunded Theory yang direkonstruksi
Sama halnya konstruksi suatu makalah yang merupakan kelengkapan suatu penelitian dibandingkan perhitungan naratif penelitian tersebut, maka rekonstruksi filosofis metode merupakan konstruksi yang menguntungkan dari pada panduan terpercaya pada perumusan asli dari metode.

D.     Langkah-langkah pokok dalam penelitian grounded theory.
Langkah-langkah pokok dalam penelitian grounded adalah sebagai berikut:
1.      Peneliti harus bias memahami atau memiliki gambaran sifat-sifat realitas empiris (lapangan)
2.      Permulaan penelitian dimulai dengan suatu pernyataan dasar mengenai dunia empiris yang dimasuki di lapangan.
3.      Peneliti harus menetapkan data apa yang akan diambil dan dengan teknik/metode apa peneliti menggelutinya.
4.      Peneliti harus melakukan eksplorasi (menjelajahi), di dalam proses menjelajahi, peneliti mengamati dan mewawancarai berbagai tipe orang untuk memperoleh informasi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam. Eksplorasi merupakan langkah awal grounded theory, oleh karena itu permasalahan penelitian, konsep-konsep, teknik pengumpulan data, semuanya harus sesuai dengan keadaan empiris (lapangan). Proses penelitian grounded theory diharapkan menemukan teori baru, pandangan baru yang menggantikan teori lama. Dengan demikian, peneliti dapat memperoleh konsep-konsep, kategori-kategori baru, hipotesis, yang semuanya diperoleh dai dunia empirik atau lapangan.
5.      Peneliti harus mampu melakukan inspection (pemeriksaan) di dalam proses inspection, pada hakikatnya seorang peneliti member penjelasan (clarify) artinya kita mengemukakan sifat-sifat (Property) dari ketegori-kategori itu dari berbagai segi secara cermat dan mendalam.
6.      Peneliti harus mampu mengadakan analisis dan menyusun secara sistematis
7.      Peneliti harus mampu merekonstruksi penemuan untuk bangunan baru hipotesis baru.
Penelitian grounded theory bertujuan menghasilkan teori grounded berdasarkan data empiris (lapangan), tugas seorang peneliti adalah memahami apa yang terjadi di lapangan, atas dasar situasi dan kondisi tersebut subjek mempunyai peranan penting sedangkan peneliti melakukan pengamantan berperan serta, wawancara mendalam dan berwacana.
Adapun kaitannya dengan hal di atas yaitu, Peneliti harus menafsirkan hasil penelitian, ini berarti peneliti harus mengatur dan mengorganisasikan hasil penelitian sehingga memiliki gambaran bermakna yang bermunculkan adanya kategori. Hubungan kategori utama itu merupakan hipotesis yang saling berhubungan, merupakan inti dari teori yang muncul. Pada tahap permulaan munculnya teori, peneliti harus megungkapkan hubungan dengan teori lain yang sudah ada, apakah menunjang, memperluas, atau menolak.

E.      Metode pengumpulan data pada Grounded Theory.
Penelitian biasanya melakukan 20-30 wawancara berdasarkan beberapa pertemuan di lapangan untuk mengumpulkan data. Wawancara dilakukan untuk menyerap atau menemukan informasi yang kontinu untuk menambah hingga tidak ada lagi yang dapat di temukan. Suatu kategori mewakili unit informasi yang tersusun dari peristiwa, kejadian, dan instansi. Peneliti juga mengumpulkan dan menganalisis pengamatan dan dokumen, tetapi bentuk data ini tidak biasa. Partisipan yang diwawancarai dipilih secara teoretis- dalam theoritical sampling-untuk membantu peneliti membentuk teori yang paling baik. Berapa banyak proses yang dibuat seseorang di lapangan akan tergantung pada apakah kategori informasi yang akan diserap dan apakah teori tersebut dielaborasi dalam semua kompleksitasnya. Proses pengambilan informasi melalui pengumpulan data dan membandingkannya dengan kategori yang muncul disebut metode komparatif konstan (  constant comparative ) analisis data.

F.       Proses analisis data dalam Grounded Theory.
proses analisis data dalam penelitian grounded theory bersifat sistematis dan mengikuti format standar sebagai berikut:
1.      Dalam pengodean terbuka ( open coding ), peneliti membentuk kategori awal dari informasi tentang fenomena yang dikaji dengan memisahkan informasi menjadi segmen-segmen. Di dalam setiap kategori, peneliti menemukan beberapa propertics, atau subkategori, dan mencari data untuk membuat dimensi ( to dimensionalize ), atau memperlihatkan kemungkinan- kemungkinan ekstrem pada kontinum properti tersebut.
2.      Dalam pengodean poros ( axial coding ), peneliti merakit dalam cara baru setelah open coding. Rakitan data ini dipresentasikan menggunakan paradigma pengodean atau diagram logika di mana peneliti mengidentifikasi fenomena sentral ( yaitu kategori sentral tentang fenomena ), menjajaki kondisi kausal ( yaitu kategori yang mempengaruhi fenomena ), menspesifikasikan strategi ( yaitu tindakan atau interaksi yang dihasilkan dari fenomena sentral ), mengidentifikasi konteks dan kondisi yang menengahinya ( yaitu kondisi luas dan sempit yang mempengaruhinya strategi ), dan menggambarkan konsekuensi ( yaitu hasil strategi ) untuk fenomena ini.
3.      Dalam pengoden selektif ( selective coding ) , peneliti mengidentifikasi “ garis cerita” dan menulis cerita yang mengintegrasikan kategori dalam model pengodean poros. Dalam fase ini, proposi bersyarat ( conditional propositions ) atau hipotesis biasanya disajikan.
4.      Peneliti dapat mengembangkan dan menggambarkan secara visual suatu matrik kondisional yang menjelaskan kondisi sosial, historis, dan ekonomis yang mempengaruhi fenmena sentral. Fase analisis ini tidak sering ditemukan dalam studi grounded theory.

























BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Grounded Theory adalah adalah suatu teori yang secara induktif diperoleh dari pengkajian fenomena yang mewakilinya
2.      Ciri-ciri grounded theory sebagaimana penjelasan Strauss dan Corbin adalah sebagai berikut:
a.      Grounded theory dibangun dari data tentang suatu fenomena, bukan suatu hasil pengembangan teori yang sudah ada.
b.      Penyusunan teori tersebut dilakukan dengan analisis data secara induktif bukan secara deduktif seperti analisis data yang dilakukan pada penelitian kuantitatif.
c.       Agar penyusunan teori menghasilkan teori yang benar

3.      Prinsip – prinsip metodologi Grounded theory adalah:
a. Perumusan masalah
b. Deteksi fenomena
c. Penurunan teori
d. Pengembangan teori
e. Penilaian teori
f. Grounded theory yang direkonstruksi
4.  Langkah-langkah pokok dalam penelitian grounded adalah sebagai berikut:
a.       Peneliti harus bias memahami atau memiliki gambaran sifat-sifat realitas empiris (lapangan)
b.      Permulaan penelitian dimulai dengan suatu pernyataan dasar mengenai dunia empiris yang dimasuki di lapangan.
c.       Peneliti harus menetapkan data apa yang akan diambil dan dengan teknik/metode apa peneliti menggelutinya.
d.      Peneliti harus melakukan eksplorasi (menjelajahi), di dalam proses menjelajahi, peneliti mengamati dan mewawancarai berbagai tipe orang untuk memperoleh informasi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang ditelitiPrinsip-prinsip grounded theory meliputi: Perumusan masalah, deteksi fenomena, penurunan teori, pengembangan teori, penilaian teori, dan grounded theory yang direkonstruksi.
5. Menurut Creswell pengumpulan data dalam studi grounded theory merupakan proses “zigzag”, keluar lapangan untuk memperoleh informasi, menganalisis data, dan seterusnya. Partisipan yang diwawancarai dipilih secara teoritis –dalam theoritical sampling- untuk membentu peneliti membentuk teori yang paling baik
6. Proses analisis data dalam grounded theory meliputi: pengodean terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), pengodean selektif (selective coding), dan proposition.

B.      Saran
Penelitian dengan Grounded Theory menuntut kualitas tertentu bagi pemula. Maka peneliti harus memiliki rasa percaya diri karena memang benar-benar mengerti. Kualitas dan kreatifitas serta wawasan yang luas harus dimiliki  oleh seorang peneliti pemula. Adanya Grounded theory ini membantu peneliti untuk keluar dari stagnasi teori. Semoga makalah mengenai Grounded theory ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan untuk orang lain.










DAFTAR PUSTAKA

Emzir (2015), Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
http://warungbelajarbebas.blogspot.co.id/2012/05/grounded-theory.html













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Landasan Hukum Pendidikan

Makalah Analisis Teori H-O

Makalah Kajian Keseimbangan di Pasar Uang