Makalah Analisis Teori H-O


MAKALAH ANALISIS TEORI HECHKSCHER-OHLIN ( H-O )
Tugas Ekonomi Internasional
( Dosen Pengampu Dr. Ketut Sudarma,MM. )




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRRWXMbJpBQQphd1mmiG6ndY2p4WIdzU0kF2fEsiPkMXoVEVYE8bFHenCo4Y1mo3iVegLmNJnStDNXDMoPl-9PtbrcSA1czuZbnwn-CfAOKuZcwcQsQCn1S_Jig8vrlXk0HMAr7zA24cg6/s320/Logo+Transparan+Warna.png
 














Disusun Oleh :
SRI PUJIASTUTI ( 0701515023 )
RETNO INDRIYASTUTI ( 0701515029 )





PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Pada dasarnya perdagangan internasional bisa terjadi apabila kedua belah pihak memperoleh manfaat atau keuntungan dalam perdagangan tersebut ( Hendra Halwani: 2005 ). Keuntungan yang diperoleh dari perdagangan bebas adalah dapat membeli barang yang harganya lebih rendah dan mungkin dapat menjual ke laur negeri dengan harga yang relatif lebih tinggi. Perdagangan luar negeri sering timbul karena adanya perbedaan harga barang diberbagai negara ( Nopirin: 2014 ). Kunci perdagangan internasional adalah teori keunggulan komparatif. Prinsip teori ini bahwa suatu negara dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatan riilnya melalui spesialisai produksi komoditi yang memiliki produktivitas tinggi. Negara-negara akan mengutamakan untuk memproduksi komoditi yang paling produktif. Prinsip keunggulan komparatif menunjukkan bahwa spesialisasi akan menguntungkaan semua negara meskipun ada negara yang secara mutlak lebih efisien dalam memproduksi semua barang dibandingkan Negara lainnya. Ekonom Swedia di tahun 1920-an, Eli Heckhsher dan Bertil Ohlin mengembangkan teori keunggulan komparatif. Teori ini dikenal dengan teori H-O.
Dalam teori modern mengenai perdagangan internasional dikenal teori Heckhsher dan Ohlin (H-O). Teori ini disebut juga factor proportion theory atau teori ketersediaan faktor. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa perdagangan internasional misalnya, antara Indonesia dan Amerika Serikat terjadi karena opportunity cost yang berbeda antara kedua negara tersebut. Perbedaan ongkos alternatif tersebut dikarenakan adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi (misalnya tenaga kerja, modal, tanah dan bahan baku yang dimiliki kedua negara tersebut. Indonesia memiliki tanah yang lebih luas dan bahan-bahan baku serta tenaga kerja (khususnya dari golongan berpendidikan rendah) yang jauh lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat. Sebaliknya Amerika Serikat memiliki tenaga kerja dengan pendidikan tinggi dalam jumlah yang lebih banyak dari pada Indonesia. Jadi karena factor endowment-nya berbeda, maka sesuai hukum pasar, harga dari faktor-faktor produksi tersebut juga berbeda antara Indonesia dan Amerika Serikat. Mialnya hanya ada dua faktor produksi yakni tenaga kerja (L) dan modal (K) dengan harga masing-masing w (gaji) dan r (suku bunga). Dengan demikian tingkat gaji di Indonesia lebih murah dari pada di Amerika Serikat dan tingkat suku bunga di Indonesia lebih mahal dibandingkan di Amerika Serikat. Akan tetapi dengan perbedaan harga faktor tersebut dengan sendirinya belum tentu dapat dikatakan bahwa Indonesia unggul dari Amerika Serikat dalam membuat suatu barang. Hal ini tergantung pada tingkat intensitas pemakaian tenaga kerja dan modal dalam memproduksi barang tersebut.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah sebagai berikut:
1.       Apakah yang dimaksud dengan teori  H-O ?
2.      Bagaimana penerapan teori H-O dalam perdagangan internasional ?
3.      Bagaimana analisa terhadap teori H-O ?

C.   Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui teori H-O.
2.      Untuk mengetahui penerapan teori H-O dalam perdagangan internasional.
3.      Untuk menganalisa teori H-O











BAB II
PEMBAHASAN
A.   Teori H-O
Teori H-O merupakan model terkenal tentang analisis perdagangan antara dua negara, di mana tiap-tiap negara mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut Bertil Ohlin, perdagangan timbul karena perbedaan dalam harga relatif barang-barang yang berbeda di negara yang berbeda. Perbedaan harga komoditas ini disebabkan oleh perbedaan dalam faktor harga (yaitu biaya). Harga faktor berbeda karena modal dan tenaga kerja berbeda dalam negara. Oleh karena itu, perdagangan terjadi karena negara-negara yang berbeda memiliki faktor pendukung yang berbeda. The Heckscher Ohlin Teorema menyatakan bahwa negara-negara yang kaya akan tenaga kerja akan mengekspor barang padat karya dan negara-negara yang kaya modal akan mengekspor barang padat modal.
Setiap negara akan mengekspor barang yang mempunyai intensitas faktor produksi yang melimpah, sebagai contoh faktor produksi yang melimpah di negara A adalah tenaga kerja, oleh karena itu teori H-O menjelaskan bahwa negara tersebut akan mengekspor barang X yang mempunyai intensitas faktor produksi yang padat karya. Beberapa asumsi yang diperlukan untuk membuktikan teori H-O adalah:
  • Ada dua negara yang terlibat.
  • Setiap negara memiliki dua faktor (tenaga kerja dan modal).
  • Setiap negara menghasilkan dua komoditas atau barang (padat karya dan padat modal).
  • Ada persaingan sempurna di kedua komoditas dan faktor pasar.
  • Semua fungsi produksi homogen tingkat pertama fungsi produksi yaitu tunduk pada skala pengembalian konstan.
  • Faktor bebas bergerak di dalam suatu negara tetapi bergerak antar negara.
  • Dua negara berbeda dalam pasokan faktor.
  • Setiap komoditas berbeda dalam intensitas faktor.
  • Fungsi produksi tetap sama di negara-negara yang berbeda untuk komoditi yang sama. Untuk misal Jika komoditas A membutuhkan lebih banyak modal di suatu negara maka sama halnya di negara lain.
  • Ada pekerjaan penuh sumber daya di kedua negara dan permintaan yang identik di kedua negara.
  • Perdagangan bebas yaitu tidak ada pembatasan perdagangan dalam bentuk tarif atau hambatan non-tarif.
  • Tidak ada biaya transportasi.
Mengingat asumsi tersebut, tesis Ohlin ini berpendapat bahwa negara barang ekspor yang menggunakan relatif proporsi yang lebih besar dari faktor melimpah dan murah yang. Sementara negara yang sama barang impor yang produksinya memerlukan penggunaan intensif dari faktor yang relatif langka dan mahal bangsa.  Konsep Faktor Kelimpahan Di kedua negara, dua komoditas & dua model faktor, menyiratkan bahwa negara yang kaya modal akan mengekspor komoditas padat modal dan negara kaya tenaga kerja akan mengekspor tenaga kerja komoditas intensif. Tetapi konsep negara menjadi kaya dalam satu faktor atau lainnya tidak begitu jelas. Ekonom cukup sering mendefinisikan faktor kelimpahan dalam hal harga faktor. Ohlin dirinya telah mengikuti pendekatan ini. Atau faktor kelimpahan dapat didefinisikan dalam hal fisik. Dalam hal ini, jumlah modal fisik & Buruh harus dibandingkan.
Harga Kriteria untuk mendefinisikan Factor Kelimpahan misalkan sebuah negara di mana modal yang relatif lebih murah dan tenaga kerja relatif mahal dikatakan modal negara yang kaya. Sedangkan negara di mana tenaga kerja relatif lebih murah dan modal yang relatif mahal dikatakan tenaga kerja negara yang kaya. Harga faktor dapat simbolis diukur sebagai berikut: Kriteria Harga mendefinisikan faktor kelimpahan Dalam hubungan di atas, P mengacu pada harga faktor, K mengacu pada Capital, L mengacu Buruh, E adalah singkatan dari Inggris, dan Saya singkatan India. Catatan:  Pada kenyataannya, Inggris bukan negara lain bagian dari Inggris Raya (UK). Inggris disebut negara dalam artikel ini hanya untuk kepentingan contoh pembelajaran. Analisis di atas menyoroti fakta bahwa di Inggris modal murah, dan karena itu adalah sebuah negara yang berlimpah modal. Sedangkan di India, Buruh lebih murah, dan dengan demikian itu adalah negara yang kaya tenaga kerja.


B.   Penerapan teori H-O dalam perdagangan internasional
Teori H-O kemudian mencoba memberikan penjelasan mengenai penyebab terjadinya perbedaan produktivitas tersebut. Teori H-O menyatakan penyebab perbedaaan produktivitas karena adanya jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki (endowment factors) oleh masing-masing negara, sehingga selanjutnya menyebabkan terjadinya perbedaan harga barang yang dihasilkan. Oleh karena itu teori modern H-O ini dikenal sebagai ‘The Proportional Factor Theory”. Selanjutnya negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif banyak atau murah dalam memproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi untuk kemudian mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu jika negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif langka atau mahal dalam memproduksinya.
Penjelasan analisis teori H-O menggunakan dua kurva. Pertama adalah kurva isocost yaitu kurva yang melukiskan total biaya produksi sama serta kurva isoquant yang melukiskan total kuantitas produk yang sama. Teori ekonomi mikro menyatakan bahwa jika terjadi persinggungan antara kurva isoquant dan kurva isocost maka akan ditemukan titik optimal. Sehingga dengan menetapkan biaya tertentu suatu negara akan memperoleh produk maksimal atau sebaliknya dengan biaya yang minimal suatu negara dapat memproduksi sejumlah produk tertentu.
Penjelasan dengan menggunakan kedua kurva tersebut misalnya dengan contoh angka hipotesis perdagangan antara Indoensia yang padat labor dengan Korea Selatan yang padat modal. Misal Indonesia mempunyai kurva isocost seperti terlihat dalam gambar di bawah ini:
 Labor
Negara I
( Indonesia )







Text Box: Kapital


Text Box: Korea Selatan








Gambar 1
Perbandingan Proporsi Faktor Produksi

Matriks GainTrade berdasar Teori H-O

Negara
Indonesia
Korea Selatan
Komoditi
Sepatu
Televisi
Sepatu
Televisi
Fakt. Produksi
Labor
Kapital
Labor
Kapital
Proses Prod.
labor intensif
kapital intensif
labor intensif
kapital intensif

Proporsi Fakt.
Prod.
75
(banyak)
25 (sedikit)
30 (sedikit)
80
(banyak)
Isoquant
300
90
300
90
Isocost
$800
$900
$900
$800
unit biaya
$2,66
(murah)
$10
(mahal)
$10
(mahal)
$8,88
(murah)

 Tabel di atas menggambarkan analisis manfaat perdagangan internasional (gain from trade) yang diperoleh masing-masing negara berdasarkan teori H-O. Tabel tersebut disusun dengan menggunakan asumsi 2*2*2 (dua negara, dua komoditi, dan dua faktor produksi). Sesuai dengan konsep titik singgung antara isocost dan isoquant, masing-masing negara cenderung memproduksi barang tertentu yang paling optimal sesuai dengan proporsi faktor produksi yang dimilikinya. Dari tabel tersebut kita mendapat gambaran tentang penggunaan asumsi teori H-O:
a.      Perdagangan internasional terjadi antara dua negara (dalam hal ini Indonesia dan Korea Selatan).
b.      Setiap negara memproduksi dua komoditi yang sama (misalnya 300 sepatu dan 80 televisi)
c.      Setiap negara menggunakan dua jenis faktor produksi yaitu labor dan kapital, dengan jumlah proporsi yang berbeda.

Gambar harga faktor produksi di atas memberikan penjelasan bahwa untuk isoquant 300 sepatu dengan proses produksi labor intensif, di Indonesia menyinggung isocost $900 pada titik A. Sehingga proses produksi 300 unit sepatu yang labor intesif akan lebih murah, karena jumlah faktor produksi (labor) yang dimiliki oleh Indonesia relatif lebih melimpah dan murah sehingga unit biaya hanya $2,66. Sebaliknya di Korea Selatan, isoquant 300 sepatu  dengan proses produksi labor intensif, di Korea Selatan menyinggung isocost $900 pada titik B. Sehingga proses produksi 300 unit sepatu yang labor intesif akan lebih mahal, karena jumlah faktor produksi (labor) yang dimiliki oleh Korea Selatan relatif lebih sedikit dan murah sehingga unit biaya menjadi $10.
Sedangkan kondisi sebaliknya untuk isoquant 90 unit televisi, di Indonesia menyinggung isocost $900 pada titik C. Sehingga proses produksi 90 unit televisi yang kapital intesif akan lebih mahal, karena jumlah faktor produksi (kapital) yang dimiliki oleh Indonesia relatif lebih langka dan mahal sehingga unit biaya menjadi $10. Sebaliknya di Korea Selatan, isoquant 90 televisi  dengan proses produksi kapital intensif, di Korea Selatan menyinggung isocost $800 pada titik D. Sehingga proses produksi 90 unit televisi yang kapital intesif akan lebih murah, karena jumlah faktor produksi (kapital) yang dimiliki oleh Korea Selatan relatif lebih sedikit dan murah sehingga unit biaya menjadi $8,88.
C.    Analisa Teori H-O
Teori H-O merupakan penyempurnaan dari teori perdagangan internasional sebelumnya, selain itu sudah dilakukan pengenduran atau pengurangan asumsi, namun masih belum sempurna. Ada bebearapa kritik terhadap teori H-O antara lain:
1.       Berdasar teori H-O perbedaan harga barang sejenis dapat terjadi karena adanya perbedaan proporsi atau jumlah faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara dalam memproduksi barang tersebut. Sehingga apabila jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama maka harga barang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional sulit terjadi.
2.       Fakta yang ada dalam dunia nyata menunjukkan walaupun jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama sehingga harga barang sejenis relatif sama, ternyata perdagangan internasional tetap dapat terjadi.
3.       Teori H-O masih merupakan teori perdagangan internasional komparatif statik (Sih Prapti E., 1991). Sehingga asumsi klasik dan neoklasik yang menganggap hampir semua besaran variabel dalam perekonomian adalah statik, tidak berubah atau diasumsikan exogeneous (perubahan ditentukan di luar model). Padahal fakta yang terjadi adalah terjadi perubahan secara terus menerus pada variabel dan  perubahannya terjadi di dalam model (endogeneous). Kondisi menyebabkan aplikasi teori H-O menjadi terbatas, atau tidak dapat diterapkan secara umum. Oleh karena itu teori hanya dapat menjelaskan terjadinya perdagangan antara negara yang kaya tenaga kerja dengan negara yang kaya kapital, dimana hanya merupakan sekitar 40% dari volume perdagangan dunia. 

Kondisi riil yang tidak sesuai dengan asumsi teori H-O

Beberapa kondisi fakta terkini yang tidak sesuai dengan asumsi teori H-O sehingga perlu adanya perbaikan, antara lain:
a.         kondisi permintaan dan penawaran komoditas perdagangan senantiasa mengalami perubahan karena variabel yang mempengaruhinya senantiasa berubah.
b.        Teori perdagangan terbaru menyatakan bahwa pengetahuan, dan pengetahuan adalah variabel penentu keputusan perdagangan dan investasi.
c.         Jumlah dan dan kualitas faktor produksi dan teknologi berubah dari waktu ke waktu.
d.        Variabel ongkos transportasi diperhitungkan.
Perbaikan antara lain dapat dilakukan dengan melakukan pelepasan beberapa asumsi yang digunakan dalam teori H-O. Misalnya asumsi teori H-O yang mengatakan tingkat teknologi sama sudah tidak relevan. Hal ini karena fakta dilapangan  menunjukkan tingkat teknologi yang tidak sama serta ada penundaan dalam proses transmisi atau difusi teknologi dari satu negara ke negara lain. Sehingga suatu negara bisa menjadi eksportir yang sukses jika terus menerus melakukan inovasi. Oleh karena itu perdagangan dilakukan dengan banyak produkproduk baru hasil inovasi. Kondisi ini relevan dengan masalah yang ada sekarang terkait dengan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang sehingga dapat mengatasi keunggulan komparatif dinamis dibandingkan teori Klasik.
Kelebihan Teori H-O
Kelebihan dari teori ini adalah jika suatu negara memiliki banyak tenaga kerja terdidik maka ekspornya akan lebih banyak. Sebaliknya jika suatu negara kurang memiliki tenaga kerja terdidik maka ekspornya akan lebih sedikit.

 

Kelemahan  Teori H-O

 Untuk lebih memahami kelemahan teori H-O dalam menjelaskan perdagangan internasional akan dikemukan beberapa asumsi yang kurang valid:
1.      Asumsi bahwa kedua negara menggunakan teknologi yang sama dalam memproduksi adalah tidak valid. Fakta yang ada di lapangan negara sering menggunakan teknologi yang berbeda. 
2.      Asumsi persaingan sempurna dalam semua pasar produk dan faktor produksi lebih menjadi masalah. Hal ini karena sebagian besar perdagangan adalah produk negara industri yang bertumpu pada diferensiasi produk dan skala ekonomi yang belum bisa dijelaskan dengan model faktor endowment H-O.
3.      Asumsi tidak ada mobilitas faktor internasional. Adanya mobilitas faktor secara internasional mampu mensubstitusikan perdagangan internasional yang menghasilkan kesamaan relatif harga produk dan faktor antar negara. Maknanya  adalah hal ini merupakan modifikasi H-O tetapi tidak mengurangi validitas model H-O.
4.      Asumsi spesialisasi penuh suatu negara dalam memproduksi suatu komoditi jika melakukan perdagangan tidak sepenuhnya berlaku karena banyak negara yang masih memproduksi komoditi yang sebagian besar adalah dari impor.
Adanya asumsi spesialisasi penuh yang mensyaratkan komoditi diproduksi dengan kondisi constan return to scale dan faktor endowment yang berbeda. Namun sebetulnya perdagangan internasional tetap dapat dilaksanakan walaupun kedua negara identik dalam berbagai hal. Hal ini yang belum dijelaskan dalam teori H-O.


















BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.       Teori H-O merupakan model terkenal tentang analisis perdagangan antara dua negara, di mana tiap-tiap negara mempunyai karakteristik tersendiri.
2.       Teori H-O menyatakan penyebab perbedaaan produktivitas karena adanya jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki (endowment factors) oleh masing-masing negara, sehingga selanjutnya menyebabkan terjadinya perbedaan harga barang yang dihasilkan. Oleh karena itu teori modern H-O ini dikenal sebagai ‘The Proportional Factor Theory”. Selanjutnya negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif banyak atau murah dalam memproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi untuk kemudian mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu jika negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif langka atau mahal dalam memproduksinya.
3.       Adapun kelemahan dari teori H-O antara lain:
a.       Asumsi bahwa kedua negara menggunakan teknologi yang sama dalam memproduksi adalah tidak valid. Fakta yang ada di lapangan negara sering menggunakan teknologi yang berbeda. 
b.      Asumsi persaingan sempurna dalam semua pasar produk dan faktor produksi lebih menjadi masalah. Hal ini karena sebagian besar perdagangan adalah produk negara industri yang bertumpu pada diferensiasi produk dan skala ekonomi yang belum bisa dijelaskan dengan model faktor endowment H-O.
c.       Asumsi tidak ada mobilitas faktor internasional. Adanya mobilitas faktor secara internasional mampu mensubstitusikan perdagangan internasional yang menghasilkan kesamaan relatif harga produk dan faktor antar negara. Maknanya  adalah hal ini merupakan modifikasi H-O tetapi tidak mengurangi validitas model H-O.
d.      Asumsi spesialisasi penuh suatu negara dalam memproduksi suatu komoditi jika melakukan perdagangan tidak sepenuhnya berlaku karena banyak negara yang masih memproduksi komoditi yang sebagian besar adalah dari impor.
e.      Adanya asumsi spesialisasi penuh yang mensyaratkan komoditi diproduksi dengan kondisi constan return to scale dan faktor endowment yang berbeda. Namun sebetulnya perdagangan internasional tetap dapat dilaksanakan walaupun kedua negara identik dalam berbagai hal. Hal ini yang belum dijelaskan dalam teori H-O.
DAFTAR PUSTAKA

Halwani, R Hendra. 2005. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Nopirin. 2014. Ekonomi Internasional. BFE-Yogyakarta.
http://desrylou.blogspot.co.id/2010/12/teori-heckscher-ohlin.html



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Landasan Hukum Pendidikan

Makalah Kajian Keseimbangan di Pasar Uang